Wednesday

BIARLAH MALAMKU PANJANG....~


~ Bertahun-tahun kuraih malam
untuk kuselindung tubuhku
dari cemburu siang
pada sebuah imbasan
yang tidak kesampaian.

Kurayu pada malam
jangan tinggalkan aku
kerana siang
hanya tahu merejam dan mendera
pada pencinta
yang bermimpi seperti aku.

Duhai malam
jasad ini telah lama menggigil
pada dingin rindu
kerana...
kau hanya memberi secebis mimpi
yang cuma penipuan
pada gelapmu yang sekejap.

Kuingin malam yang panjang.~

~ Selendang Hitam ~

Tuesday

~ KUINTAI DIKAU

~ Kuintai kerdip bintang
jikalau ada bayangmu
...
namun tidak kelihatan
dan mata
mula beransur pejam
bila malam semakin pekat.

Di sini sedang merindu...
bagaimana dengan di sana?
mungkin lelah siang
buat kita terpisah pada malam
terasing di daerah berlainan.

Selamat malam sayang
apa pun situasi
ingatlah daku dalam mimpi
bahawa malam yang berulang
membawa banyak kenangan.~

~ Selendang Hitam ~

OMBAK RINDUMU...

sayang...
dimana dirimu kini...
aku tiada arah dalam mencarimu...
...
buntu...depanku hanya kelabu...
sayang...
tahukah dikau disini setiakau bersama doa...
agar kau disana terus terpelihara...
sayang...
andai ada tempias membasahi ruangan jendela mu...
itulah airmataku yang sarat menanggung rindu...
andai ada sang bayu mencium paras wajahmu...
itu kasihku yang tak kan pernah berhenti menunggumu..
sayang...
aku disini berbicara bersama alam..
hati menangis dihiris pedih...
bila bait madahmu berdendang dibenakku..
pilu merintih, diri takkan terpulih...
bila suaramu sering bertandang memanggil rindu..
aneh tingkahmu buatku keliru...
jujur bicaramu dulu yang hanya kau saja tahu...
sirna janjimu menggaburi mata hatiku...
namun akulah sang pantai yang tetap setia...
setia menanti kunjungan ombak rindumu...
walau ku tahu cuma seketika labuhmu...
namun doaku sentiasa ada...
agar akulah pantai hati...
untuk selamanya kau singgahi....

Monday

Sendiri ku berdiri disini
Di sudut pojok ruang hati
Mencari-dan terus mencari
Tanpa tahu apa yang ingin dicari

Hanya bisa merasakan
mencoba mencari kejujuran
Dalam rasa yang terus bergelora tak berkawan
Atas hati yang terus berkinginan

Tak ada angin berhembus
Membuat peluh mengalir menembus
Membawa sebuah kerinduan yang tak bertepi
Selalu hadir dalam hidup sepi

Biar, biarkan aku menata ruang di hati
Karena tak sedikit inginku atas cinta ini
Menggurat membekas di dalam nurani
Terus berbisik dan menyapa meyakini

Bagai gerimis turun malam hari
Menyapu jejak luka
Membangkit memberi pesona
Atas suatu keinginan diri

Seorang yang kusayangi
Terimakasih ku atas semua ini
Kau telah miminjamkan ku sayap
Biar ku coba terus terbang merayap
Mengantarkan ketulusan cinta yang termiliki

Dalam Perenunganku, Mencoba merasakan cinta....
Buatmu insan yang aku sayang...

Aku akan menunggumu...
Walau penungguan itu perit
Aku akan menantimu...
Walau penantian itu sulit
Aku akan setia disisimu...
Walau sekeruh mana pun keadaan melanda kita
Aku akan teguh dihatimu...
Walau kekadang kocakan hidup
Menggoncang hidup kita.

Kerana aku yakini...
Sehebat mana pun dugaan
Pasti kita dapat telusuri bersama
Andai cinta yang terbina hanya kepada Allah sandarannya
Bagiku...
Kaulah insan yang teristimewa
Namamu terpahat di dada
Selepas Allah dan RasulNya...
Aku menanti dan menunggu
Di dalam pepohon rindu
Yang ku nukilkan lewat doa2ku...
Saat Allah satukan kita
Sujud dan tangisku
Akan berarak di dalam syukur
Atas nikmat yang aku dambakan selalu
Kini menjadi milikku...
Terima kasih
Semoga Allah Merahmatimu...
Aamiiin ya Rabb!!!!!

Ilham Muslimah

Friday

HATI YANG PALING INDAH


Sehingga saat ini, saya masih termenung panjang tatkala mengulang baca sebuah sajak yang baru saya siarkan dua hari yang lalu.

CINTA 100%.

Andai ada yang bertanya, berapa peratuskah cintamu untuk ayah ibumu?
Pasti jawapanku, 100%.
Andai ada yang bertanya, berapa pula peratus cintamu pada suamimu?
Pasti jawapanku, 100%.
Andai ada yang bertanya, berapa peratuskah cintamu untuk anak-anakmu?
Pasti jawapanku 100%.
Andai ada yang bertanya, berapa pula peratus cintamu untuk saudara seakidahmu?
Pasti jawapanku, 100%.

Andai mereka bertanya, lalu berapa pula peratus cintamu untuk dirimu sendiri?
Pasti jawapanku, 100%.
Andai mereka keliru lantas tertanya-tanya, masakan begitu?
Bukankah setelah dibahagi, cinta itu pasti berkurang peratusannya?
Pasti jawapanku, beserta senyum malu-malu,
Ada satu di dunia ini, walau dibahagi seberapa banyakpun, ia tetapkan sama..
Tidak berkurang walau sedikitpun,
Itulah CINTA…

Anugerah paling berharga dari Yang Maha Esa.


KETIDAKADILAN
Saya akui, dalam melewati pertengahan usia tiga puluhan ini, dari sehari ke sehari kian kerap saya mengimbas pengalaman masa lalu, mengutip pengajaran dari kehidupan, terutama kenangan-kenangan yang pahit dan mencabar. Yang banyak merobek hati dan menitiskan airmata kepedihan.

Walau siapa pun saya, saya tetap seorang manusia biasa yang adakalanya tewas dengan emosi sendiri. Dan saya yakin, tiada seorang pun yang terkecuali dari mengalami situasi ini.

Telah banyak kita membaca, mendengar dan menyaksikan, bagaimana sebahagian orang mencurahkan kasih sayang yang tidak berbelah bagi kepada anak-anak; makan minumnya dijaga rapi, pakaian, permainan, hiburan dan segala yang diinginkan oleh si anak dari kecil hingga menginjak dewasa diberi tanpa banyak soal.

Namun, bila melihat sikap si anak yang bagai melupakan budi orang tua, mereka kecewa. Limpahan kasih mereka kepada si anak dibalas dengan curahan kata-katanya yang menyakitkan, memberontak, tidak mendengar nasihat dan seumpamanya.

Berapa ramai pula para isteri yang meluah masalah, telah melakukan yang terbaik untuk suami tercinta. Memasak makanan kesukaannya, menatahias kediaman mereka agar bersih dan selesa, membasuh dan menyediakan pakaiannya, mengasuh dan mendidik anak-anak sewaktu ketiadaan suami di rumah, berusaha menenangkannya saat suami berhadapan masalah, merawat kesakitannya dan lain-lain khidmat bakti seorang isteri buat suami yang dikasihi.

Namun, bila satu-satu ketika, isteri juga memerlukan perhatian serupa, suami bagaikan tidak perasan, lebih bersikap acuh tak acuh dalam mempamerkan penghargaan. Lalu, isteri makan hati dan merajuk kerana merasa dirinya tidak dihargai dan disayangi.

Demikian seterusnya, suami menjeruk rasa terhadap isteri, rakan sesama rakan, jiran antara jiran, pendakwah terhadap mad’unya, kakitangan bawahan terhadap majikan/pihak atasan mereka dan lain-lain lagi.

Di satu pihak mereka merasa hanya banyak memberi, tetapi tidak terlalu kerap menerima.

Terbit justifikasi, adilkah keadaan sebegini?

KISAH SEKEPING HATI
Suatu ketika, seorang pemuda yang tampan berdiri di tengah-tengah kota dan mendakwa bahawa dia memiliki sekeping hati yang paling cantik. Lalu diangkat hatinya setinggi yang boleh agar kilauan dari hati yang indah itu dapat dilihat oleh orang lain di sekitarnya.

Tersebar bicara kekaguman orang ramai. Sememangnya hati pemuda itu, tiada cacat celanya. Tidak carik walau sedikitpun. Permukaannya licin sempurna. Warnanya juga segar dan menyerlah pesona seorang anak muda.

Pemuda tampan itu mulai merasa bangga dengan pujian yang diterima. Sorakannya semakin kuat mewar-warkan betapa indah sekeping hati yang dimilikinya.

Tiba-tiba, di tengah-tengah keriuhan itu, muncul seorang tua. Langkahnya perlahan menuju ke arah pemuda tampan. Lagaknya, seolah dia mahu membicarakan sesuatu.

“Wahai anak muda, mengapa kulihat hatimu hampir tidak seindah hatiku?” Orang tua tersebut bertanya dalam nada suara yang agak lemah tetapi penuh keyakinan. Orang ramai dan si pemuda mulai berkeliling mengerumuni orang tua.

Mereka mendengar degup yang kuat tercetus dari hatinya, tetapi hati itu dipenuhi luka. Di satu sisi, kelihatan permukaannya bertampal-tampal. Ada potongan hati yang diambil dan potongan yang lain dimasukkan ke dalamnya, tetapi ia kelihatan tidak berpadanan. Pada satu sudut yang lain, terdapat pula beberapa tanda patah. Bahkan, di beberapa tempat, terdapat lubang yang dalam, di mana seluruh bahagian permukaannya telah hilang.

Melihat itu, orang ramai saling berpandangan.

TERTANYA-TANYA
"Bagaimana orang tua ini boleh mengatakan bahawa hatinya lebih indah?" fikir mereka.
Sementara itu, pemuda tampan tertawa.

"Tentu engkau bergurau, wahai orang tua," katanya.

"Kalau dibandingkan hatimu dengan hatiku, apa yang aku ada ini adalah sangat sempurna, sedangkan kepunyaanmu begitu berantakan dengan bekas-bekas luka dan air mata," lanjutnya lagi.

"Ya, memang benar" tukas si tua penuh kesabaran.

"Kepunyaanmu adalah sempurna, namun aku tidak sesekali akan menukarnya dengan hatimu. Andai saja kau lihat wahai anak muda, setiap bekas luka di hatiku ini mewakili setiap seorang yang telah aku berikan cintaku buat mereka. Aku merobek sepotong hatiku dan memberikannya kepada mereka, dan setiap kali itu juga mereka memberiku sepotong dari hati mereka untuk mengisi tempat kosong di hatiku ini, tetapi kerana potongan-potongan itu tidak tepat, lalu menyebabkan ketidaksempurnaannya, bahkan ia kelihatan kasar dan tidak rata.

Namun, aku tetap menghargainya, kerana pemberian mereka mengingatkanku pada cinta yang terbina bersama antara kami. " Panjang lebar bicara orang tua. Si pemuda tampan terpaku mendengar patah katanya.

"Kadang-kadang aku telah memberikan potongan hatiku, tetapi orang yang kuberikan potongan hatiku itu, tidak memberikan kembali sepotong hatinya kepadaku. Inilah yang mengakibatkan wujudnya lubang-lubang ini. Kau tahu wahai anak muda, sesungguhnya memberikan cinta adalah bermakna memberikan peluang dan kesempatan. Walaupun bekas robekan itu menyakitkan, ia akan tetap terbuka lantas mengingatkanku tentang cinta yang masih aku miliki untuk mereka. Dan aku berharap suatu ketika nanti mereka akan kembali dan mengisi lompong-lompong kosong yang sekian lama kutunggu-tunggu agar ia diisi.

Nah, sekarang fahamkah engkau tentang kecantikan sejati? " Si tua mengakhiri kata-katanya.

Pemuda tampan itu terus terdiam. Dia menundukkan kepala dengan air mata mengalir di pipinya. Dia menghampiri orang tua, mengambil hatinya yang sempurna, muda dan cantik itu dan merobek keluar satu potongan darinya. Dia menawarkan potongan tersebut kepada orang tua dengan tangan gementar.

Si tua itu menerima pemberian tersebut lalu meletakkannya pada hatinya dan kemudian mengambil pula sepotong dari bekas luka lama di hatinya dan menempatkannya untuk menutup luka di hati pemuda itu.

Sungguhpun ia sesuai, tetapi ia tidak sempurna, kerana ada beberapa tanda patahan.
Orang muda itu menatap hatinya yang tidak lagi sempurna tetapi kini lebih indah dari sebelumnya, lantaran cinta dari hati orang tua itu kini mengalir kepada hatinya. Mereka bergandingan dan berjalan bersama meninggalkan orang ramai terus terpaku dengan peristiwa menginsafkan itu.

HATI YANG PALING INDAH
Saya menangis. Seakan terpancar kefahaman di dalam diri ini bagaimana anjuran ‘mencintai’ yang dimaksudkan oleh junjungan mulia, Muhammad SAW menerusi sabdanya yang bermaksud :

“Dari Abu Hamzah, Anas bin Malik radiallahuanhu, pembantu Rasulullah SAW, dari Rasulullah SAW, baginda bersabda: Tidak beriman salah seorang diantara kamu hingga dia mencintai saudaranya sebagaimana dia mencintai dirinya sendiri.” (Riwayat Bukhari dan Muslim)

Ia bermaksud, memberi sepenuh hati. 100%. Yang terbaik!

Sebagaimana kita menginginkan yang terbaik buat diri sendiri, begitulah juga sewajarnya yang kita lakukan/berikan kepada orang di sekitar.

Tetapi, dengan satu ingatan. Jangan pula mengharap balasan yang sama, 100% , terhadap apa yang telah diberikan itu, kerana bila pemberian mengharap balasan, maka dibimbangi tiada lagi keikhlasan padanya.

Justeru itu, tidak hairan mengapa Rasulullah SAW diiktiraf oleh ALLAH SWT sebagai semulia-mulia insan. Setelah sekian banyak hinaan, cacian dan penderitaan yang dialami, baginda tetap tampil menyebar salam beserta senyuman.

Tujahan batu-batu, diganti dengan kalungan doa, lemparan najis, diganti dengan untaian budi.

Firman ALLAH SWT :

وَإِنَّكَ لَعَلى خُلُقٍ عَظِيمٍ

Maksudnya : “Dan sesungguhnya engkau ( wahai Muhammad ) benar-benar berbudi pekerti yang agung.” ( Surah al Qalam ayat 4 )

Justeru itu, mari bersama kita usahakan, walau kasih tidak dihargai, kita tetap memberi. Walau khidmat tidak dipeduli, kita terus mencurah bakti.

Ingatlah, andai satu ketika kita tidak mengenal erti kehancuran, kita tidak akan pernah tahu apa yang membuatkan kita utuh dan teguh untuk hari-hari seterusnya.

Yakinlah :

ALLAH mahu mendidik kita, DIA ingin mengingatkan kita bahawa tiada cinta yang sempurna selain cinta-NYA, yang hanya dapat dirasakan oleh pemilik hati-hati yang mendekatkan diri kepada Yang Maha Esa.

Hati yang sering dilukai lalu sembuh setelah dirawat dengan zikir kepada ilahi, adalah hati yang indah, bercahaya dengan kasih dan sayang dari Yang Maha Esa. Walaupun luka masih ada, namun sifat sabar, reda dan bersedia memaafkan menjadi ‘antiseptik’ yang menahan luka itu dari dijangkiti kuman dendam yang membawa derita berpanjangan.

Akhirnya, bersyukurlah andai memiliki hati yang sering dilukai, kerana dengannya kita belajar menjadi seorang yang lebih mengerti, memahami dan menghargai.


Terus memuhasabah diri ini……

Mencari dan terus mencari cinta ILAHI.

petikan dari


Tuesday

Siapakah Qarin


Qarin adalah jin yang dicipta oleh Allah sebagai pendamping manusia. Boleh dikatakan ia sebagai "kembar" manusia. Setiap manusia yang dilahirkan ke dunia ini pasti ada qarinnya sendiri. Rasulullah s.a.w. sendiri tidak terkecuali. Cuma bezanya, qarin Rasulullah adalah muslim. Manakala yang lainnya adalah kafir.

Pada umumnya qarin yang kafir ini kerjanya mendorong dampingannya membuat kejahatan. Dia membisikkan was-was, melalaikan solat, berat nak baca al-Quran dan sebagainya. Malah ia bekerja sekuat tenaga untuk menghalang dampingannya membuat ibadah dan kebaikan.

Untuk mengimbangi usaha qarin ini Allah utuskan malaikat. Ia akan membisikkan hal-hal kebenaran dan mengajak membuat kebaikan. Maka terpulanglah kepada setiap manusia membuat pilihan mengikut pengaruh mana yang lebih kuat. Walau bagaimanapun orang-orang Islam mampu menguasai dan menjadikan pengaruh qarinnya lemah tidak berdaya. Caranya dengan membaca "Bismillah" sebelum melakukan sebarang pekerjaan, banyak berzikir, membaca al-Quran dan taat melaksanakan perintah Allah.

Sabda Rasulullah s.a.w. daripada Abdullah Mas'ud r.a. maksudnya: "Setiap kamu ada Qarin daripada bangsa jin, dan juga Qarin daripada bangsa malaikat. Mereka bertanya: "Engkau juga ya Rasulullah." Sabdanya: "Ya aku juga ada, tetapi Allah telah membantu aku sehingga Qarin itu dapat kuislamkan dan hanya menyuruh aku dalam hal kebajikan sahaja." (Riwayat Ahmad dan Muslim)

Aisyah r.ha. menceritakan bahawa pada suatu malam Rasulullah s.a.w. keluar dari rumahnya (Aisyah), Aisyah berkata: "Aku merasa cemburu." tiba-tiba Baginda berpatah balik dan bertanya: "Wahai Aisyah apa sudah jadi, apakah engkau cemburu?" Aku berkata: "Bagaimana aku tidak cemburu orang yang seumpama engkau ya Rasulullah." Sabda Baginda: "Apakah engkau telah dikuasai oleh syaitan?" Aku bertanya: "Apakah aku ada syaitan?" Sabda Baginda: "Setiap insan ada syaitan, iaitu Qarin." Aku bertanya lagi: "Adakah engkau pun ada syaitan ya Rasulullah?" Jawab Baginda: "Ya, tetapi Allah membantuku sehingga Qarinku telah masuk Islam." (Riwayat Muslim)

Di dalam hadis lain daripada Ibnu Umar r.a., sabda Rasulullah s.a.w. yang bermaksud: "Aku dilebihkan daripada Nabi Adam a.s. dengan dua perkara, iaitu pertama syaitanku kafir lalu Allah menolong aku sehingga dia Islam. Kedua, para isteriku membantu akan daku tetapi syaitan Nabi Adam tetap kafir dan isterinya membantu ia membuat kesalahan." (Riwayat Baihaqi)

Ibn Muflih al-Muqaddasi menceritakan: Suatu ketika syaitan yang mendampingi orang beriman, bertemankan syaitan yang mendampingi orang kafir. Syaitan yang mengikuti orang beriman itu kurus, sedangkan yang megikuti orang kafir itu gemuk. Maka ditanya mengapa engkau kurus, "Bagaimana aku tidak kurus, apabila tuanku masuk ke rumah dia berzikir, makan dia ingat Allah, apabila minum pun begitu." Sebaliknya syaitan yang mengikuti orang kafir itu pula berkata: "Aku sentiasa makan bersama dengannya dan begitu juga minum."

Qarin akan berpisah dengan "kembar"nya hanya apabila manusia meninggal dunia. Roh manusia akan ditempatkan di alam barzakh, sedangkan qarin terus hidup kerana lazimnya umur jin adalah panjang. Walau bagaimanapun, apabila tiba hari akhirat nanti maka kedua-duanya akan dihadapkan ke hadapan Allah untuk diadili. Tetapi qarin akan berlepas tangan dan tidak bertanggungjawab atas kesesatan atau kederhakaan manusia.

Saturday

Solat Dhuha, Doa dan cara melaksanakannya



“Pada tiap-tiap pagi lazimkanlah atas tiap-tiap ruas anggota seseorang kamu bersedekah; tiap-tiap tahlil satu sedekah, tiap-tiap takbir satu sedekah, menyuruh berbuat baik satu sedekah, dan cukuplah (sebagai ganti) yang demikian itu dengan mengerjakan dua rakaat sembahyang Dhuha.” (Hadis riwayat Al-Bukhari dan Muslim)


Aisyah r.a menceritakan bahwa Rasulullah SAW selalu melaksanakan shalat Dhuha empat rakaat. Dalam riwayat Ummu Hani', ''Kadang Rasulullah SAW melaksanakan shalat Dhuha sampai lapan rakaat.'' (HR Muslim).


Imam Attirmidzi dan Imam Atthabrani meriwayatkan sebuah hadis yang menjelaskan bahwa bila seseorang melaksanakan shalat Subuh berjamaah di masjid, lalu ia berdiam di tempat shalatnya sampai tiba waktu dhuha, kemudian ia melaksanakan shalat Dhuha, ia akan mendapatkan pahala seperti naik haji dan umrah diterima. Para ulama hadis merekomendasikan hadis ini kedudukannya hasan.

Ruang waktu dan waktu afdal

Sesuailah dengan namanya dhuha yang bermaksud pagi. Jadi ruang waktunya bermula kira-kira 20 minit selepas terbit matahari atau disebut dalam kitab-kitab fikah sebagai tinggi matahari daripada pandangan jauh sekadar satu al-Rumh atau batang lembing yakni kira-kira dua meter. Waktu solat ini pula berakhir sebelum menjelang waktu Zuhur.

Berkenaan waktu afdalnya pula iaitu ketika sinar matahari kian panas berdasarkan sepotong hadis Nabi s.a.w. yang dirakamkan oleh Zaid bin Arqam. Rasulullah s.a.w. menjelaskan: “Solat Dhuha ini afdalnya ketika matahari telah meninggi dan kian panas sinarnya.” Imam Nawawi menghuraikan masa tersebut sebagai masa berlalunya seperempat tempoh siang hari iaitu pukul 10 pagi hingga 1 petang (Kitab al-Majmu’ karangan Imam Nawawi).

Justeru, waktu sedemikian eloklah dilaksanakan solat tersebut, apatah lagi pada saat itu badan memerlukan ‘rehat sebentar’ setelah penat bekerja. Maka disarankan juga sekiranya masa tersebut diisi sekadar empat hingga lima minit dengan sujud menyembah Ilahi sama ada di rumah atau di tempat kerja dengan syarat tidak mengetepikan perkara-perkara atau urusan yang wajib dan utama daripada yang sunat.

Cara melaksanakannya

Secara asas dan mudahnya berdasarkan hadis-hadis Nabi, solat sunat Dhuha ini dilakukan seperti solat-solat lain, cuma bacaan yang dianjurkan Baginda s.a.w. selepas al-Fatihah, menurut hadis yang disampaikan oleh Uqbah bin Amir, ialah surah al-Syams pada rakaat pertama dan al-Dhuha pada rakaat kedua. (Riwayat al-Hakim)

Namun begitu, perkara (bacaan dalam solat) ini adalah sesuatu yang subjektif dan tidak statik. Maka tidak perlulah hanya terikat dengan kaifiat tertentu dan bacaan tertentu. Apa yang penting, solat tersebut diniatkan dengan betul, syarat-syaratnya dipenuhi dan rukun-rukunnya disempurnakan sebaik-baiknya. Begitu jugalah dengan doa selepas solat tersebut.

Doa yang disarankan;

“Ya Allah bahawasanya waktu duha itu waktu duhamu, kecantikan itu ialah kecantikanmu , keindahan itu keindahanmu, kekuatan itu kekuatanmu ,kekuasaan itu kekuasaanmu dan perlindungan itu perlindunganmu “. ” Ya Allah jika rezekiku masih di atas langit , turunkanlah dan jika ada di dalam bumi, keluarkanlah, jika sukar mudahkanlah, jika haram sucikanlah. ,Jika masih jauh dekatkanlah. Berkat waktu duha, keagungan, keindahan, kekuatan dan kekuasaanmu, limpahkanlah kepada kami segala yang telah engkau limpahkan kepada hamba-hambamu yang soleh”


Read more: http://www.ahmad-sanusi-husain.com/2011/04/solat-dhuha-doa-dan-cara.html#ixzz1ZVh4mHpg

Tuesday

untuk apa lagi

by Harun Jaafar on Tuesday, August 23, 2011 at 3:00am


kali ini

perlukah lagi dipertahankan hati

memujuk jiwa yang makin lara

memujuk hati yang makin sedih

oleh sindiran dan cemuhan

lontaran kata yang kian memedih

mengungkit kesilapan silam

dengan ungkapan kebencian

menyamakan diri ini

bagai manusia lain yang tiada hati

yang tiada perasaan

yang hanya pembawa aniaya

mengundang berjuta sengsara.


kali ini

ku semakin tidak mampu lagi

mempertahankan jiwa ini

yang kian dirundung kecewa

pabila segala baikku tiada erti

segala lembutku tiada makna

segala sayangku tiada diperlu

segala kasihku tiada diharap

segala simpatiku seakan sia-sia

mahu apakah lagi

ku buat dan ku lakukan

dalam memperbaiki segalanya

demi pertahankan diriku ini

kerana tiada sedikitpun niat menganiaya

tiada sedikitpun mahu hancurkan

segalanya itu

demi mahu selamatkan

maruah dan harga diri

yang ku jelas nampak

akan teraniaya sekali lagi

ku terpaksa lakukan

biar

kesannya aku menjadi salah

aku menjadi pelaku aniaya

aku menjadi pemusnah

aku menjadi manusia jahat

jahat hati

jahat perasaan

jahat segala-galanya

biarlah

demi aku berjaya halang

mungkin buat seketika


kali ini

apa lagi yang perlu dipertahankan

pada hati yang selamanya kian memedih

untuk mengumpul secangkir bahagia

dalam mempertahankan janji dulu

yang telah diminta dan dirayu

yang dengan itu mengundang cinta

mengundang sayang

mengundang rindu

mengundang setia

mengundang kejujuran

yang kekal abadi

selamanya

yang tidak pernah berubah

yang makin kuat dihati

memendam rasa

mempertahan cinta kasih

kerana bukan mudah

untuk jatuh hati

bukan mudah jatuh sayang

pada siapapun


mengapa perlu dipertahankan lagi

pada diri itu

yang tidak setia

pada janji dan rayunya dulu

tapi

kutetap berharap kembalinya

pada janjinya yang dulu

mahu selamanya bersama diri ini

mahu selamanya jangan pergi

mahu selamanya kekal berkasih

kekal kealam bahagia


kali ini

perlukah aku kekal lagi di sini

menjadi pembantu dan penolong

pada kehidupan itu

yang bantuku tiada dihargai

yang tolongku tidak bernilai

untuk apa

ku masih ada lagi

sedangkan aku hanya manusia hina

ku buat semua demi sayang amat

demi kasih amat

bagai aku yang dulu

tidak sedikitpun berubah

ku lakukan demi berharap

dapat kutebus silapku itu

dapat ku selamatkan cinta suci

kerana sayangku tidak pernah berubah

kasih ku tetap kekal begitu

mengharap bertaut semula

agar hatinya kembali

memadu semula janji yang dulu

setia semula pada hatiku

setia semula pada janji itu.


kali ini

untuk apa lagi diharap

sedang ku sedar diriku tiapa makna

sedang diriku tiada diharga

sedang diriku bukan ditunggu

sedang diriku cuma diperlu

saat kesusahan yang menghimpit

kerana boleh memperoleh senang

terasa benar ku diperguna

sedang aku

terus dianggap pemusnah

pada tidak setianya itu

pada kehidupan baru

yang memedihkan hatiku

yang meminggirkan diriku

yang pedihnya Allah yang tahu.


kali ini

untuk apa lagi

ku pertahankan segalanya

kerana ku sedar ada yang lain

yang sedang ditunggu

yang sedang dinanti

yang tempohnya semakin hampir

yang masanya semakin mendekat

yang nantinya pasti ku sengsara lagi

walau ku sedar perginya ke situ

mengundang sengsara bagai dulu

mengundang derita lebih lagi

biarlah

biarlah itu mahunya

ku tidak berhak menegah lagi

ku tidak berhak menahan

ku tiada berhak apa-apa

aku cuma menjadi pemusnah sahaja

itu katanya

pergilah

pergilah kemana pun semahunya

kerana tidak setia itu

tidak perlu dipertahankan lagi

pergilah ke mana pun

jika itu mengundang bahagia

pada kehidupan akan datang


kali ini

seharusnya aku yang pergi dulu

sebelum tempoh itu mendekat

sebelum saat kecewa ku menghampir

sebelum diriku terus terusir sekali lagi

jika dulu tanpa ku sedar

kini untuk apa kupertahankan

kerana ku sedar aku tiada harga lagi

yang berguna cuma saatnya susah

yang ada harga masanya sengsara

yang kini hidupnya bebas

kini ada yang lain lebih hebat

lebih segalanya bersalut keemasan


kali ini

aku hanyalah penunggu sial

yang mengundang sengsara

berharap agar diri diterima dan dihargai

yang cuma sia-sia

kerana aku bukanlah

yang diterima bagai dulu

bukan juga yang dirayu dulu

bukan juga yang setia pada harapan dulu

aku hanyalah

penanti dan pecacai sahaja

yang menjadi tempat mendapat senang

pada hidupnya yang sering terhimpit

diriku kini

persis umpama banjingan dicelah alam

yang tidak diperlukan di mana-mana.

bila hati tersentuh jiwa meruntuh

by Harun Jaafar on Monday, August 22, 2011 at 5:01pm facebook

adakala hati tersentuh

jiwa semakin rapuh

menahan sendu yang mendatang

menerawang memenuhi ruang

yang kian hari kian usang

dalam sekeping hati

yang tidak berharga

walau diserahkan sepenuh raga

walau dicurah sepenuh rasa

dengan sebuah harapan

bukan mainan seloka

bukan mainan bahasa jiwa

tapi benarnya dirasa

benarnya dikemuka

agar ada rasa

ada sentuhan jiwa

menerima hati itu

menjadi bertaut semula

bagai satu waktu

di kehidupan dulu

adakala

hati tidak lagi diperduli

lontaran kata mengungkit

menyentuh jiwa menjadi pedih

hendak kemana dibawa pergi

hati yang penuh luka

kerana sebuah harapan

menjadi semakin terpinggir

kerana tidak terbuka

hati itu menerima diri

yang selamanya setia

selamanya begitu

tidak berubah

bagai permulaan yang dulu

betulkah diri

dengan pengorbanan ini

mahu menjaga diri

mahu menjaga segalanya

walau tidak pernah dihargai

perlukah dibawa pergi

hati yang sering pedih

meninggalkan diri itu

kerana bagai tiada apa lagi

yang diharap

yang perlu digarap

akan terbina istana indah

yang hati tetap harap

akan berdiri megah

di satu waktu nanti.

perlukah dibawa pergi

diri bersama hati yang sedih

jauh dari segala-galanya

kerana masih terasa lagi

diri diperlu

bila diri itu tidak mampu

meneruskan hidup yang menghimpit

kerana hati sesungguhnya

tidak akan biarkan

diri itu terhina lagi di mana-mana

kerana tidak akan dibiarkan lagi

diri itu mengemis simpati

dari sesiapa jua

kerana diri tetap setia

mempertahan janji dulu

yang tidak akan pergi

meninggalkan diri itu

kerana cinta bukan satu mainan

sayang bukan cubaan

tapi akan kekal utuh

tegar sampai bila pun

walau diri itu pernah pergi

meninggalkan hati punah kecewa

namun hati tetap harap

diri itu kembali

dengan hati yang dulu

ke pangkuan diri

yang kekal begini

perlukah diri terus berdiri

di sini lagi

dengan sebuah harapan

yang entah bagaimana

kerana ucapan diri itu

semakin hari semakin memedih

bagai sudah tiada apa lagi

untuk hati mengharap merintih

terkunci rapat hati itu

menolak diri benci sekali

pada Maha Esa ku berserah

akan aku berishtikarah

moga diri tidak perlu lagi

ada disini dengan satu harapan

yang selamanya tidak diterima

yang selamanya menjadi sia-sia

biar

biarlah diri pergi jauh

kerana tiada apa-apa lagi di sini

untuk ditunggu dan diharap

pada diri yang menanti yang lain

yang menunggu yang lain

yang tiada apa lagi

untuk diri pertahankan

hati tidak mahu punah sekali lagi

andainya diri itu pergi lagi

pada yang ditunggu

tempoh 3 bulan itu

buat diri menjadi sendu

apakah sekali lagi kecewa lagi

biarlah

biarlah diri pergi sebelum itu

moga diri itu bahagia

selamanya hati tidak diharga

biarlah hati pergi dengan lara

moga diri itu pergi ke situ

moga bahagia.

kerana itu dia tunggu.